Enigma Sebuah Peradaban

Peradaban Merupakan Kemajuan Kebudayaan, Kecerdasan, Yang Lahir Dalam dari Proses Perjuangan Kehidupan Yang Tersusun Dalam Untaian Sejuta Enigma

PENDIDIKAN NASIONAL ”BERJALAN SESUAI RENCANA”…!!?? April 23, 2008

Filed under: Education — ozidateno @ 07:07

Oleh: Rozidateno Putri Hanida[1]dan[2]

Pemerintah Indosesia benar-benar sedang serius menjalankan agendanya sebagai ”pemerintahan yang baik”, pemerintah yang selalu berjalan dengan rencana dan pemerintah yang selalu terbuka serta pemerintah yang selalu konsisten dengan rencananya tersebut. Rakyat boleh menatap tak percaya, tapi ya seperti itulah adanya, apa-apa yang sebenarnya telah diagendakan dan direncakan oleh pemerintah untuk dalih percepatan pembangunan atau untuk menjaga kesinambungan pembangunan, akan terus melaju, tanpa satu kekutaan pun bisa mengontrol apalagi menghentikannya.

Haruskah sebegitu skeptisnya kita menilai pemerintahan kita saat ini? Dan tentunya semua kita dengan sisa rasa nasionalis yang ada akan mencoba menjawab dengan lebih baik, tapi kemudian alasan-alasan kebaikan yang coba disusun untuk memberikan pembenaran dibantahkan oleh fakta yang dipertontonkan secara terbuka didepan mata. Itulah yang terjadi dengan dunia pendidikan nasional kita. Pendidikan yang direncanakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, benar-benar sedang diwujudkan, dengan memakai semboyan pendidikan untuk rakyat, pendidikan dari rakyat dan pendidikan oleh rakyat. Sehingga pemerintah cukup berperan sebagai penonton, dengan menarik diri dari tanggung jawab untuk tidak lagi ikut campur dengan persoalan-persoalan pendidikan.

Uphoria yang bisa kita nikmati, ketika ditegaskan dalam UUD 1945 yang diamandemen, dalam pasal 31 ayat 4 dinyatakan bahwa anggaran penyelanggaraan pendidikan nasional minimal 20% diambil dari anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Akan tetapi belum lagi angka 20% tercapai, saat ini pemerintah sudah berencana untuk melakukan pemotongan terhadap anggaran pendidikan tersebut, sesuai dengan Surat Menteri Keuangan Nomor S-1/Mk.02/2008 pada 2 januari 2008, yang meminta untuk diadakan penghematan 15 persen. Jika ini dilakukan maka anggaran pendidikan untuk tahun 2008 yang telah dianggarkan sebesar 49,7 triliun, akan menjadi 42,3 triliun, jumlah itu lebih kecil dari anggaran pendidikan dalam APBN tahun 2007 yang berjumlah 44,1 triliun (kompas 27 feb 2008). Kondisi ini tidak akan menjadi persolan bagi pemerintah, karena dengan pemotongan, penghematan atau penundaan pemanfaatan anggaran pendidikan itu pemerintah akan melakukan penghematan anggaran dan dapat didayagunakan untuk pos yang lain, lalu bagaimana dengan bidang pendidikan? Ini juga tidak akan menjadi persoalan jika investasi dibidang pendidikan bisa ditingkatkan, begitulah kira-kira dalih yang bisa kita dengar.

Inilah sebenarnya ide utama yang sedang direncanakan oleh pemerintah dengan menggulirkan kebijakan otonomi pendidikan, memaksa pendidikan untuk menjadi semakin mahal. Saat ini pendidikan dikelola dengan menggunakan manajemen bisnis yang kemudian menghasilkan biaya yang melangit. Biaya pendidikan makin mahal, bahkan terkesan sudah menjadi komoditas bisnis bagi kaum pemilik modal. Dengan menggunakan lebel Sekolah unggulan, sekolah faforit, Sekolah percontohan, Sekolah model, dan sebagainya. Yang dengan konsekwensi embel-embel tersebut, biaya pendidikan semakin menindas masyarakat kecil. Lalu tidak salah kita bertanya dimanakah letak keadilan dalam dunia pendidikan itu, kalaulah hannya pendidikan yang bagus itu hanya lah untuk orang yang berpunya.

Otonomi pendidikan awalnya boleh saja ditujukan untuk menumbuhkan sekaligus melestarikan potensi-potensi lokal. Tapi jika dalam perjalanannya malah justru berbuah privatisasi pada lembaga-lembaga pendidikan, termasuk lembaga pendidikan di daerah. Privatisasi pendidikan itu merupakan proses transformasi lembaga pendidikan yang sepenuhnya menggunakan manajemen provit (provit oriented). Badan Hukum Pendidikan (BHP) dengan sangat jelas mnyebutkan, bahwa penyelenggaraan pendidikan mengunakan manajemen korperatif dengan dana yang diambil sebagian besar dari masyarakat. Di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yang dari tahun ke-tahun dikenal sebagai kampus rakyat. Sekarang setelah menerapkan otonomi, UGM sekarang sudah bak Perseroan Terbatas (PT) dalam menyelenggarakan pendidikannya. Akibatnya biaya pendidikan yang harus dibayarkan untuk bisa kuliah dikampus rakyat ini ini tidak lagi merakyat, tapi sudah sangat-sangat mahal. Bukti yang paling nyata berikutnya adalah bahwa bahwa pemerintah akan memasukan sektor pendidikan nasional kedalam General Agreement Trade and Service (GATS), yang akibatnya adalah sektor pendidikan akan dijadikan seperti komoditas lainya dalam berbisnis. Tentunya akan banyak investor asing yang akan bermain modal disektor ini, yang sudah barang tentu pula nantinya setiap pendidikan yang diselenggarakan dengan paradigma modal akan selalu mengaharapkan keuntungan yang nyata secara materiil. Setiap investasi yang ditanamkan tentu akan diukur dengan laba nyata yang bisa mereka peroleh oleh para investor tersebut. Akibat lainnya adalah bahwa kemudian pendidikan nasional harus tunduk dan patuh pada perdagangan dunia (World Trade Organization). Lalu akan menjadi apakah pendidikan untuk rakyat yang tidak mampu atau akan menjadi apakah lembaga-lembaga pendidikan nasional tanah air?

Persaingan dalam hal kualitas pendidikan akan semakin ketat. Dan masing-masing pemodal akan selalu mempertinggi kualitas lembaga pendidikan yang menjadi lahan investasi mereka. Dengan menyediakan banyak fasilitas canggih dan tenaga-tenaga yang profesional, dengan modal yang besar tentunya akan berdiri sebuah lembaga pendidikan yang berkualitas, dan kita juga harus menyadari bahwa pemilik modal itu tidak hanya berinvestasi secara cuma-cuma, karena kemudian mereka akan segera menuai keuntungan, dengan menarik biaya pendidikan dengan sangat mahal, hukum ekonomi halal berlaku pada level yang seperti ini. Dan kemudian bisa kita pastikan masyarakat akar rumput akan menuai buah yang teramat pahit.

Dalam buku William F. O’neil yang berjudul ideologi-ideologi pendidikan (2002) kita bisa baca begitu bnayaknya paradigama pendidikan, yang mengerucut pada tiga pengelompokan besar yaitu; pertama paradigma pendidikan konservatisme, paradigama ini bermula dari konstruksi filosofis yang lebih banyak berpedoman pada filsafat pendidikan dengan aliran perenialisme dan esensialisme. Karena pada dasarnya pendidikan konservatif menempatkan posisi manusia sebagai objek dogma-dogma yang cenderung menempatkan manusia sebagai objek yang tak berdaya (cognizable). Pandangan konservativ ini berujung pada pemahaman bahwa apapun yang terjadi dengan manusia adalah secara keseluruhan rangkaian dari perjalanan nasib yang tidak bisa diubah dan digangu gugat, karena sudah merupakan sebuah takdir dari Sang Pencipta. Paradigma Kedua yaitu paradigama liberalisme, yang bermula dari filsafat rasionalisme Descartes, segala hal yang bemula dari keidupan manusia selalu dikembalikan pada suatu prinsip bahwa manusia adalah makhluk rasional (animal rational). Dengan prinsip individualisme pendidikan berjalan lebih dinamis mengutamakan persaingan sehat dan rasional, yang melahirkan pendidkan yang profesional yang sepenuhnya menganggap bahwa pendidikan adalah murni sebagai proses aktualisasi diri dan dan potensi-potensi kemanusian. Dan sepertinya inilah yang sekarang sedang dipilih oleh pemerintah guna memuluskan rencana di dunia pendidikan.

Dan paradigma pendidikan ketiga yaitu paradigma pendidikan kritis, menjadi paradigma yang tidak populer dimata pemerintah, yaitu sebuah gagasan yang pernah dikembagkan oleh Paulo Freire (1921-1997) yang banyak mengadopsi gagasan para filosof eksistensialisme. Freire menggaris bawahi, bahwa dalam pendidikan itu terdapat tiga unsur fundamental, yang meliputi: pengajar, peserta didik dan realitas dunia. Posisi pengajar dan peserta didik oleh Freire dikategorikan sebagai subjek yang sadar (cognitive), sehingga keduanya sama berfungsi sebagai subjek dalam pembelajaran. Dan dia meneptkan realitas dunia sebagai medium pembelajaran bagi manusia. Dari realitas itulah seluruh manusia belajar. Prinsip kebebasan yang dimiliki oleh manusia menjadi dasar untuk berbuat dan bertindak, yang disebut Friere sebagai The man’s ontological vocation, yang bagi Freire segala bentuk penindasan yang menafikan potensi manusia, oleh karena itu dia menggagas bentuk pendidikan sebagai sebuah proses untuk memanusiakan manusia (humanisasi).

Dan dengan kesadaran kita semua bisa katakan bahwa pendidikan itu memang tidak bisa bejalan dengan netral, haruslah berkiblat pada satu visi. Yang semestinya dipilih adalah visi berpihak pada rakyat. Namun itu tidak terlepas dari bagaimana pemerintah memandang rakyatnya, Apakah hanya akan dilihat sebagai citizen yang boleh dikenai bentuk kebijakan apapaun, ataukah sebagai costomer yang siap mendapatkan penghormatan semu dan siap menerima bujuk rayu dan janji manis dari penjualnya, atau akan bernasib sedikit lebih baik yaitu sebagai stake holder yang selalu diajak berkumpul untuk sama-sama merumuskan, namun sering ditinggalkan ditengah jalan, atau pada posisi yang terhormat sebagai share holder, yang tidak hanya didengarkan tapi juga diakaui keberadaannya sebagai pemilik yang pasti juga memiliki hak untuk memutuskan akan dibawa kemana dunia pendidikan nasional ini? Dengan rencana yang seharusnya siap terimplementasi.


[1] Mahasiswa Pasca sarjana Universitas Gadjah Mada dan Staf Pengajar Jurusan Ilmu Administrasi Negara Universitas Andalas, serta aktif sebagai peneliti di Talins Sumbar.

[2] Untuk kelancaran komunikasi bisa dilakukan dengan menghubungi no HP; 081374073122 atau di email ozidateno@yahoo.com atau ozidateno@gmail.com

 

4 Responses to “PENDIDIKAN NASIONAL ”BERJALAN SESUAI RENCANA”…!!??”

  1. yuliasari Says:

    good tulisannya. dah coba di publikasikan?

    Sebenarnya sudah banyak para kritikus yang mengkritik pendidikan Indonesia sekarang, ada yang bicara tentang kurikulum dan ada yang bicara tentang dana pendidikan. Dana pendidikan berpihak pada kaum awak, sudah banyak pula dibicarakan para pemerhati pendidikan. Tapi kenapa pengelola pendidikan tidak lebih care, malah tumbuh subur pengikut pendidikan mahal. Kasusnya seperti menjamur setelah banyak orang ribut gara2 mahalnya pendidikan itu.

    Pendapat yang uni kemukakan, kalau menurut ya sih mencoba diprioritaskan pada sisi seorang mahasiswa yang melihat lingkungan kampus sendiri, tp sedikit sekali tentang itu. bagussss!!

    sedikit komen neh : ngk da yg gratis untuk apapun dimuka bumi ini, apalagi pendidikan, apa kata dunia ?

    hehehhe

  2. pro pendidikan mahal Says:

    untuk saat ini memang begitu adanya, kl pengen sukses harus ada pegorbanan, sebagai contoh untuk referensi yang anda baca saja sudah menunjukkan setidaknya anda telah membeli koran kompas, buku rujukan, so btuh biaya kan..?yang bertujuan untuk menambah wawasan anda. kl pengen murah ato gratis anda baca saja koran kompas ato apa yg bisa anda baca,seperti koran bekas bungkus ikan asin,bungkus nasi,bungkus gorengan atau para dosen pakai kurikulum lama, diktat yang yg dipakai g update lagi. pertanyaan yg simpel aja..?di dunia apa siy gratis…???sebagai anda ketahui 30% dari APBN kita digunakan untuk bayar bunga dan utang. jadi kl pengen murah atau gratis mimpi kaleee…!!. jangan samakan kondisi keuangan negara kita dengan negara maju.hmm.. bisa juga gratis tapi kl sudah tercipta gemah ripah kerta raharja loh jinawi.

  3. Numpang lewat ni………

    Oughh….#@*&&$ BaRek bana Blog uni mah

    NGANTUAK AWAK ah..

    lalok ciek lu..

    wassalam.

  4. よろしくおねがいします。good good nice


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s